
Lele,
secara ilmiah adalah jenis ikan berkulit halus dan berlendir yang
memiliki banyak spesies. Tidak mengherankan pula apabila lele di
Nusantara mempunyai banyak nama daerah. Antara lain: ikan kalang
(Sumatera Barat), ikan maut (Gayo), ikan seungko (Aceh), ikan sibakut
(Karo), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makassar),
ikan cepi (Sulawesi Selatan), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah) atau
ikan keli (Malaysia), ikan 'keli' untuk lele yang tidak berpatil
sedangkan disebut 'penang' untuk yang memiliki patil (Kalimantan
Timur).
Ikan
lele sangat mudah di budidayakan di Indonesia, terutama di
daerah-daerah yang beriklim lembab, karena lele kurang bisa
beradaptasi di daerah yang beriklim panas atau terlalu dingin.
Berbagai
cara untuk budidaya lele sudah banyak dilakukan oleh petani lele di
Indonesia, mulai dengan cara convensional yaitu dengan media tambak
tanah, lalu lele ditebar dan diberi pakan seadanya, hingga dengan
cara yang lebih praktis yaitu dengan media plester yang terbuat dari
semen. Bahkan akhir-akhir ini ditemukan metode terpal yang sangat
effesien dan praktis.
Yang
jelas pada prinsipnya, budidaya lele sangatlah mudah. Tergantung
bagaimana kita bisa memahami karakter ikan lele, mulai dari
gerak-gerik lele hingga bahasa tubuhnya.
Ikan
lele merupakan jenis ikan yang mempunyai tipikal mudah untuk
dibudidayakan, dan minim perawatan. ;berbeda dengan jenis ikan
lainnya, ikan lele tidak memerlukan air yang mengalir. Untuk itu,
lele bisa dibudidayakan didaerah yang minim dengan jumlah air.
Disamping itu, tingkat kepadatan penebaran benih




